Ini Dampak Body Shaming terhadap Kesehatan Mental

Banyak perubahan ketika seseorang menginjak fase remaja, baik itu perubahan fisik, mental ataupun perkembangan seksual. Pada masa-masa inilah seseorang menjadi terlalu sadar tentang penampilan dan penampilan fisik.

Dikutip dari Mind Shift Psycological Service, menginjak fase remaja, orang menjadi sangat rentan terhadap body shaming. Body shaming dapat digambarkan sebagai tindakan mengejek atau mempermalukan seseorang berdasarkan penampilan fisik mereka.

Mulai dari penilaian terhadap berat badan, bentuk tubuh, dan ukuran, seperti terlalu gemuk atau terlalu kurus, terlalu terang atau terlalu gelap, terlalu keriting atau terlalu lurus.

Secara global, prevalensi body shaming ditemukan berada di kisaran 25 hingga 35 persen. Sebuah penelitian menyebutkan total prevalensi body shaming ditemukan sebesar 44,9 persen.

Salah satu faktor maraknya terjadi body shaming karena cita-cita seputar standar untuk perempuan ataupun laki laki telah berubah. Wanita kurus dianggap lebih menarik daripada wanita yang lebih berat, dan pria yang lebih tinggi dan berotot lebih disukai daripada yang lanky.

Body shaming bukan semata-mata mengkritik seseorang yang kelebihan berat badan, tetapi bahkan mereka yang kekurangan berat badan. Orang-orang dari segala bentuk dan ukuran dapat menjadi korban body shaming.

Berbagai macam cara seseorang mengungkapkan perkataan body shaming, mulai dari nada bercanda, secara halus, yang mungkin tanpa menyadarinya.

Body Shaming dan Kesehatan Mental

Studi menunjukkan, perlakukan body shaming memiliki konsekuensi terhadap kesehatan mental dan fisik dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Beberapa masalah kesehatan mental muncul dari body shaming, seperti rendah diri, kecemasan, dan gejala depresi.

Ketika seseorang dipermalukan terutama di bagian tubuh dapat menyebabkan perasaan penghindaran dan memilih untuk mengisolasi diri karena penghinaan yang dirasakan.

Ada juga catatan peningkatan perasaan rendah diri, citra diri, dan harga diri. Lebih buruk lagi, body shaming dapat membuat seseorang merasa kesepian dan menyesal untuk diri sendiri, yang dapat menyebabkan depresi.

Selain itu, body shaming dapat menyebabkan kebiasaan makan yang tidak sehat dan melakukan hal ekstrem untuk memperbaiki kondisi fisik. Hal ini bisa mengarah pada dua cara spektrum.

Pertama makan terlalu banyak untuk menambah berat badan. Kedua seseorang menolak untuk makan untuk menurunkan berat badan. Di mana dapat membuat orang berisiko menderita gangguan makan.

WILDA HASANAH

Sebuah studi menunjukkan, perlakukan body shaming memiliki konsekuensi terhadap kesehatan mental dan fisik dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.