Temuan Baru, PVMBG Ungkap Sesar Gempa Merusak di Bali

Tim peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkap sesar penyebab gempa merusak di Bali pada 16 Oktober 2021. Panjang dan potensi kekuatan gempanya kini telah diketahui dari sebelumnya yang belum teridentifikasi.

“Indikasi atau temuan awal karena sebelumnya belum pernah ada,” kata Supartoyo, peneliti gempa dari PVMBG saat dikonfirmasi Sabtu, 13 November 2021.

Sementara ini, panjang sesar itu diketahui 9 kilometer. Bentangan sesarnya punya kelurusan arah timur laut–barat daya dan terletak di antara Gunung Agung dan Batur. Temuan itu, kata Supartoyo, berdasarkan data Digital Elevation Model Nasional (Demnas) milik Badan Informasi Geospasial dan pengamatan tim riset di lapangan.

Sesar mendatar itu diperkirakan mampu menghasilkan gempa bumi dengan magnitudo 6,2. “Dengan kedalaman dangkal cukup dahsyat bisa sampai VII atau VIII MMI,” katanya.

Skala VII MMI menggambarkan situasi ketika gempa, setiap orang keluar rumah dan getarannya terasa oleh pengendara. Selain itu terjadi kerusakan ringan pada bangunan rumah dengan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, dan cerobong asap pecah.

Sementara pada skala VIII MMI, bangunan dengan konstruksi yang kuat akan mengalami kerusakan ringan. Sementara pada konstruksi yang kurang baik menimbulkan retak-retak, dinding jebol dari rangka rumah, dan merobohkan bangunan tinggi seperti cerobong asap pabrik dan monumen, serta membuat air menjadi keruh.

Data awal ini, menurut Supartoyo, harus diverifikasi lebih lanjut. “Sesarnya sampai kemana panjangnya, kemudian apakah hanya satu sesar atau segmented, terpotong-potong,” kata dia. Riset lanjutan itu diperlukan karena ada kemungkinan dari data permukaan tertutup oleh endapan rombakan Gunung Batur dan Agung.

Paling tidak, menurut Supartoyo, metode identifikasinya harus dilakukan dengan melihat kondisi bawah permukaan. “Kalau garis (sesarnya) sudah pasti, langkah mitigasinya lebih mudah, misalnya tidak boleh membangun sepanjang jalur dan zona patahan aktif,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan Tim Tanggap Darurat Badan Geologi dan data sekunder lainnya, lokasi pusat gempa bumi di sekitar Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Daerah terdekat dengan lokasi pusat gempa bumi adalah Kabupaten Karangasem dan Bangli.

Sebelumnya diberitakan, gempa pada Sabtu, 16 Oktober 2021, pukul 03.18 WIB atau 04.18 WITA bermagnitudo 4,8 berpusat di darat dari kedalaman 10 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat koordinat titik pusat gempanya, yaitu 115,45 derajat Bujur Timur dan 8,32 derajat Lintang Selatan.

Lokasi pusat sumber gempa itu berjarak sekitar 18,4 kilometer arah timur laut Kota Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Setelah itu muncul beberapa kali gempa susulan, di antaranya bermagnitudo 3,8.

Kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan bencana di Kabupaten Karangasem dan Bangli, yaitu tiga orang meninggal dunia, 11 orang luka berat, 72 orang luka ringan, dan lebih dari seribu unit bangunan mengalami kerusakan.

Sesar mendatar itu diperkirakan mampu menghasilkan gempa bumi dengan magnitudo 6,2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.